Ingin menjadi lelaki digilai wanita walaupun perut boroi..klik sini
Powered by MaxBlogPress  

Kehebatan Saidina Ali

Posted on May 2, 2008
Filed Under Tokoh Islam |



Suatu hari ketika ‘Ali sedang berada dalam pertempuran, pedang musuhnya
patah dan orangnya terjatuh. ‘Ali berdiri di atas musuhnya itu,
meletakkan pedangnya ke arah dada orang itu, dia berkata, “Jika
pedangmu berada di tanganmu, maka aku akan lanjutkan pertempuran ini,
tetapi kerana pedangmu patah, maka aku tidak boleh menyerangmu.”

“Kalau aku punya pedang saat ini, aku akan memutuskan
tangan-tanganmu dan kaki-kakimu,” orang itu berteriak balik.

“Baiklah kalau begitu,” jawab ‘Ali, dan dia menyerahkan
pedangnya ke tangan orang itu.

“Apa yang sedang kamu lakukan”, tanya orang itu kebingungan. “Bukankah saya ini musuhmu?”

Ali
memandang tepat di matanya dan berkata, “Kamu bersumpah kalau memiliki
sebuah pedang di tanganmu, maka kamu akan membunuhku. Sekarang kamu
telah memiliki pedangku, kerana itu majulah dan seranglah aku”. Tetapi
orang itu tidak mampu.
“Itulah kebodohanmu dan kesombongan berkata-kata,” jelas ‘Ali.
“Di
dalam agama Allah tidak ada perkelahian atau permusuhan antara kamu dan
aku. Kita bersaudara. Perang yang sebenarnya adalah antara kebenaran
dan kekurangan kebijakanmu. Iaitu antara kebenaran dan dusta. Engkau
dan aku sedang menyaksikan pertempuran itu. Engkau adalah saudaraku.
Jika aku menyakitimu dalam keadaan seperti ini, maka aku harus
mempertanggungjawabkannya pada hari kiamat. Allah akan menanyakan hal
ini kepadaku.”

“Inikah cara Islam?” Orang itu bertanya.

“Ya,” jawab ‘Ali, “Ini adalah firman Allah, yang Mahakuasa,
dan Sang Unik.”

Dengan segera, orang itu bersujud di kaki ‘Ali dan memohon,
“Ajarkan aku syahadat.”

Dan ‘Ali pun mengajarkannya, “Tiada tuhan melainkan Allah.Tiada yang ada selain Engkau, ya Allah.”

Hal yang sama terjadi pada pertempuran berikutnya. ‘Ali
menjatuhkan
lawannya, meletakkan kakinya di atas dada orang itu dan menempelkan
pedangnya ke leher orang itu. Tetapi sekali lagi dia tidak membunuh
orang itu.

“Mengapa kamu tidak membunuh aku?” Orang itu
berteriak dengan marah. “Aku adalah musuhmu. Mengapa kamu hanya berdiri
saja?,’Dan dia meludahi muka ‘Ali.

Mulanya ‘Ali menjadi marah,
tetapi kemudian dia mengangkat kakinya dari dada orang itu dan menarik
pedangnya. “Aku bukan musuhmu”, Ali menjawab. “Musuh yang sebenarnya
adalah sifat-sifat buruk yang ada dalam diri kita. Engkau adalah
saudaraku, tetapi engkau meludahi mukaku. Ketika engkau meludahi aku,
aku menjadi marah dan keangkuhan datang kepadaku. Jika aku membunuhmu
dalam keadaan seperti itu, maka aku akan menjadi seorang yang berdosa,
seorang pembunuh. Aku akan menjadi seperti semua orang yang kulawan.
Perbuatan buruk itu akan terbekam atas namaku. Itulah sebabnya aku
tidak membunuhmu.”

“Kalau begitu tidak ada pertempuran antara kau dan aku?” orang itu bertanya.

“Tidak.
Pertempuran adalah antara kearifan dan kesombongan. Antara kebenaran
dan kepalsuan”. ‘Ali menjelaskan kepadanya. “Meskipun engkau telah
meludahiku, dan mendesakku untuk membunuhmu, aku tak boleh.”

“Dari mana datangnya ketentuan semacam itu?”

“Itulah ketentuan Allah. Itulah Islam.”

Dengan segera orang itu tersungkur di kaki ‘Ali dan dia juga
diajari dua kalimat syahadat.

Artikel berkaitan

Comments

Leave a Reply





This blog uses the CommentLuv plugin which will try and parse your sites feed and display a link to your last post, please be patient while it tries to find it for you.