14 alasan merindui ramadhan al mubarak
Posted on September 3, 2008
Filed Under Agama |
Seperti seorang kekasih, selalu diharap-harap kedatangannya. Rasanya
tak ingin berpisah sekalipun cuma sedetik. Begitulah Ramadhan seperti
digambarkan sebuah hadits yang diriwayatkan Ibnu Khuzaimah, “Andaikan
tiap hamba mengetahui apa yang ada dalam Ramadhan, maka ia bakal
berharap satu tahun itu puasa terus.” Sesungguhnya, ada apanya di dalam
Ramadhan itu, ikutilah berikut ini:
1. Gelar Taqwa
Taqwa adalah gelar tertinggi yang dapat diraih manusia
sebagai hamba Allah. Tidak ada gelar yang lebih mulia dan tinggi dari
itu. Maka setiap hamba yang telah mampu meraih gelar taqwa, ia dijamin
hidupnya di surga dan diberi kemudahan-kemudahan di dunia. Dan puasa
adalah sarana untuk mendapatkan gelar taqwa itu. “Hai orang-orang
beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas
orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa.” (QS al-Baqarah : 183).
Kemudahan-kemudahan yang diberikan Allah kepada hambanya yang taqwa, antara lain:
a. Jalan keluar dari semua masalah. Kemampuan manusia amat
terbatas, sementara persoalan yang dihadapi begitu banyak. Mulai dari
masalah dirinya, anak, istri, saudara, orang tua, kantor dan
sebagainya. Tapi bila orang itu taqwa, Allah akan menunjukkan jalan
berbagai persoalan itu. Bagi Allah tidak ada yang sulit, karena Dialah
pemilik kehidupan ini. “… Barangsiapa bertaqwa kepada Allah, niscaya
Dia akan mengadakan baginya jalan keluar.” (QS. Ath Thalaaq: 2). “…
Dan barang siapa bertaqwa kepada Allah, niscaya Allah menjadikan
baginya kemudahan dalam urusannya.” (QS. Ath Thalaaq : 4).
b. Dicukupi kebutuhannya. “Dan memberinya rezeki dari arah
yang tak disangka-sangkanya. Dan barangsiapa bertawakkal kepada Allah,
niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya….” (QS. Ath Thalaaq :
3).
c. Ketenangan jiwa, tidak khawatir dan sedih hati.
Bagaimana bisa bersedih hati, bila di dalam dadanya tersimpan Allah. Ia
telah menggantungkan segala hidupnya kepada Pemilik kehidupan itu
sendiri. Maka orang yang selalu mengingat-ingat Allah, ia bakal
memperoleh ketenangan. “Hai anak-anak Adam, jika datang kepadamu
rasul-rasul daripada kamu yang menceritakan kepadamu ayat-ayat-KU, maka
barangsiapa bertaqwa dan mengadakan perbaikan, tidaklah ada
kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.”
(QS. al-A’raaf : 35).
2. Bulan Pengampunan
Tidak ada manusia tanpa dosa, sebaik apapun dia.
Sebaik-baik manusia bukanlah yang tanpa dosa, sebab itu tidak mungkin.
Manusia yang baik adalah yang paling sedikit dosanya, lalu bertobat dan
bernjanji tidak mengulangi perbuatan dosa itu lagi. Karena dosa manusia
itu setumpuk, maka Allah telah menyediakan alat penghapus yang canggih.
Itulah puasa pada bulan Ramadhan. Beberapa hadits menyatakan demikian,
salah satunya diriwayatkan Bukhari Muslim dan Abu Dawud, “Barangsiapa
berpuasa pada bulan Ramadhan karena keimanannya dan karena mengharap
ridha Allah, maka dosa-dosa sebelumnya diampuni.”
3. Pahalanya Dilipatgandakan
Tidak hanya pengampunan dosa, Allah juga telah menyediakan
bonus pahala berlipat-lipat kepada siapapun yang berbuat baik pada
bulan mulia ini. Rasulullah bersabda, “Setiap amal anak keturunan Adam
dilipatgandakan. Tiap satu kebaikan sepuluh lipat gandanya hingga tujuh
ratus lipat gandanya.” (HR. Bukhari Muslim).
Bahkan amalan-amalan sunnah yang dikerjakan pada Ramadhan,
pahalanya dianggap sama dengan mengerjakana amalan wajib (HR. Bahaiqi
dan Ibnu Khuzaimah). Maka perbanyaklah amal dan ibadah, mumpung Allah
menggelar obral pahala.
4. Pintu Surga Dibuka dan Neraka Ditutup
“Kalau datang bulan Ramadhan terbuka pintu surga, tertutup
pintu neraka, dan setan-setan terbelenggu.” (HR. Muslim). Kenapa pintu
surga terbuka? Karena sedikit saja amal perbuatan yang dilakukan, bisa
mengantar seseorang ke surga. Boleh diibaratkan, bulan puasa itu bulan
obral. Orang yang tidak membeli akan merugi. Amal sedikit saja
dilipatgandakan ganjarannya sedemikian banyak. Obral ganjaran itu untuk
mendorong orang melakukan amal-amal kebaikan di bulan Ramadhan. Dengan
demikian otomatis pintu neraka tertutup dan tidak ada lagi kesempatan
buat setan menggoda manusia.
5. Ibadah Istimewa
Keistimewaan puasa ini dikatakan Allah lewat hadits
qudsinya, “Setiap amalan anak Adam itu untuk dirinya, kecuali puasa.
Itu milik-Ku dan Aku yang membalasnya karena ia (orang yang berpuasa)
meninggalkan syahwat dan makanannya karena Aku.” (HR. Bukhari Muslim).
Menurut Quraish Shihab, ahli tafsir kondang dari IAIN
Syarif Hidayatullah Jakarta, puasa dikatakan untuk Allah dalam arti
untuk meneladani sifat-sifat Allah. Itulah subtansi puasa. Misalnya,
dalam bidang jasmani, kita tahu Tuhan tidak beristri. Jadi ketika
berpuasa dia tidak boleh melakukan hubungan seks. Allah tidak makan,
tapi memberi makan. Itu diteladani, maka ketika berpuasa kita tidak
makan, tapi kita memberi makan. Kita dianjurkan untuk mengajak orang
berbuka puasa. Ini tahap dasar meneladani Allah.
Masih ada tahap lain yang lebih tinggi dari sekedar itu.
Maha Pemurah adalah salah satu sifat Tuhan yang seharusnya juga kita
teladani. Maka dalam berpuasa, kita dianjurkan banyak bersedekah dan
berbuat kebaikan. Tuhan Maha Mengetahui. Maka dalam berpuasa, kita
harus banyak belajar. Belajar bisa lewat membaca al-Qur’an, membaca
kitab-kitab yang bermanfaat, meningkatkan pengetahuan ilmiah.
Allah SWT setiap saat sibuk mengurus makhluk-Nya. Dia
bukan hanya mengurus manusia. Dia juga mengurus binatang. Dia mengurus
semut. Dia mengurus rumput-rumput yang bergoyang. Manusia yang berpuasa
meneladani Tuhan dalam sifat-sifat ini, sehingga dia harus selalu dalam
kesibukan.
Perlu ditekankan meneladani Tuhan itu sesuai dengan
kemampuan kita sebagai manusia. Kita tidak mampu untuk tidak tidur
sepanjang malam, tidurlah secukupnya. Kita tidak mampu untuk
terus-menerus tidak makan dan tidak minum. Kalau begitu, tidak makan
dan tidak minum cukup sejak terbitnya fajar sampai tenggelamnya
matahari saja.
6. Dicintai Allah
Nah, sesesorang yang meneladani Allah sehingga dia dekat
kepada-Nya. Bila sudah dekat, minta apa saja akan mudah dikabulkan.
Bila Allah telah mencintai hambanya, dilukiskan dalam satu hadits
Qudsi, “Kalau Aku telah mencintai seseorang, Aku menjadi pendengaran
untuk telinganya, menjadi penglihatan untuk matanya, menjadi pegangan
untuk tangannya, menjadi langkah untuk kakinya.” (HR. Bukhari).
7. Do’a Dikabulkan
“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku,
katakanlah bahwa Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang berdo’a
apabila dia berdo’a, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala
perintah)Ku.” (QS. al-Baqarah : 186).
Memperhatikan redaksi kalimat ayat di atas, berarti ada
orang berdo’a tapi sebenarnya tidak berdo’a. Yaitu do’anya orang-orang
yang tidak memenuhi syarat. Apa syaratnya? “Maka hendaklah mereka itu
memenuhi (segala perintah)Ku.”
Benar, berdo’a pada Ramadhan punya tempat khusus, seperti
dikatakan Nabi SAW, “Tiga do’a yang tidak ditolak; orang berpuasa
hingga berbuka puasa, pemimpin yang adil dan do’anya orang teraniaya.
Allah mengangkat do’anya ke awan dan membukakan pintu-pintu langit.
“Demi kebesaranKu, engkau pasti Aku tolong meski tidak sekarang.” (HR
Ahmad dan Tirmidzi).
Namun harus diingat bahwa segala makanan yang kita makan,
kesucian pakaian, kesucian tempat, itu punya hubungan yang erat dengan
pengabulan do’a. Nabi pernah bersabda, ada seorang yang sudah kumuh
pakaiannya, kusut rambutnya berdo’a kepada Tuhan. Sebenarnya keadaannya
yang kumuh itu bisa mengantarkan do’anya dia diterima. Tapi kalau
makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya yang dipakainya terambil
dari barang yang haram, bagaimana bisa dikabulkan doa’nya?
Jadi do’a itu berkaitan erat dengan kesucian jiwa, pakaian
dan makanan. Di bulan Ramadhan jiwa kita diasah hingga bersih. Semakin
bersih jiwa kita, semakin tulus kita, semakin bersih tempat, pakaian
dan makanan, semakin besar kemungkinan untuk dikabulkan do’a.
8. Turunnya Lailatul Qodar
Pada bulan Ramadhan Allah menurunkan satu malam yang
sangat mulia. Saking mulianya Allah menggambarkan malam itu nilainya
lebih dari seribu bulan. (QS. al-Qadr). Dikatakan mulia, pertama
lantaran malam itulah awal al-Qur’an diturunkan. Kedua, begitu banyak
anugerah Allah dijatuhkan pada malam itu.
Beberapa hadits shahih meriwayatkan malam Lailatul Qodar
itu jatuh pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. Seperti dirawikan
Imam Ahmad, “Lailatul Qadar adalah di akhir bulan Ramadhan tepatnya di
sepuluh terakhir, malam keduapuluh satu atau duapuluh tiga atau
duapuluh lima atau duapuluh tujuh atau duapuluh sembilan atau akhir
malam Ramadhan. “Barangsiapa mengerjakan qiyamullail (shalat malam)
pada malam tersebut karena mengharap ridha-Ku, maka diampuni dosanya
yang lampau atau yang akan datang.”
Mengapa ditaruh diakhir Ramadhan, bukan pada awal
Ramadhan? Rupanya karena dua puluh malam sebelumnya kita mengasah dan
mengasuh jiwa kita. Itu adalah suatu persiapan untuk menyambut lailatul
qodar.
Ada dua tanda lailatul qadar. Al Qur’an menyatakan, “Pada
malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat JIbril dengan izin Tuhan
mereka untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh)
kesejahteraan/kedamaian sampai terbit fajar. (QS al-Qadr : 4 - 5).
Malaikat bersifat ghaib, kecuali bila berubah bentuk
menjadi manusia. Tapi kehadiran malaikat dapat dirasakan. Syekh
Muhammad Abduh menggambarkan, “Kalau Anda menemukan sesuatu yang sangat
berharga, di dalam hati Anda akan tercetus suatu bisikan, ‘Ambil barang
itu!’ Ada bisikan lain berkata, ‘Jangan ambil, itu bukan milikmu!’
Bisikan pertama adalah bisikan setan. Bisikan kedua adalah bisikan
malaikat.” Dengan demikian, bisikan malaikat selalu mendorong seseorang
untuk melakukan hal-hal positif. Jadi kalau ada seseorang yang dari
hari demi hari sisi kebajikan dan positifnya terus bertambah, maka
yakinlah bahwa ia telah bertemu dengan lailatul qodar.
9. Meningkatkan Kesehatan
Sudah banyak terbukti bahwa puasa dapat meningkatkan
kesehatan. Misalnya, dengan puasa maka organ-organ pencernaan dapat
istirahat. Pada hari biasa alat-alat pencernaan di dalam tubuh bekerja
keras. Setiap makanan yang masuk ke dalam tubuh memerlukan proses
pencernaan kurang lebih delapan jam. Empat jam diproses di dalam
lambung dan empat jam di usus kecil (ileum). Jika malam sahur dilakukan
pada pukul 04.00 pagi, berarti pukul 12 siang alat pencernaan selesai
bekerja. Dari pukul 12 siang sampai waktu berbuka, kurang lebih selama
enam jam, alat pencernaan mengalami istirahat total.
Meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Berdasarkan
penelitian yang dilakukan para ahli kesehatan, ternyata dengan berpuasa
sel darah putih meningkat dengan pesat sekali. Penambahan jumlah sel
darah putih secara otomatis akan meningkatkan sistem kekebalan tubuh.
Menghambat perkembangan atau pertumbuhan bakteri, virus
dan sel kanker. Dalam tubuh manusia terdapat parasit-parasit yang
menumpang makan dan minum. Dengan menghentikan pemasukan makanan, maka
kuman-kuman penyakit seperti bakteri-bakteri dan sel-sel kanker tidak
akan bisa bertahan hidup. Mereka akan keluar melalui cairan tubuh
bersama sel-sel yang telah mati dan toksin.
Manfaat puasa yang lain adalah membersihkan tubuh dari
racun kotoran dan ampas, mempercepat regenasi kulit, menciptakan
keseimbangan elektrolit di dalam lambung, memperbaiki fungsi hormon,
meningkatkan fungsi organ reproduksi, meremajakan atau mempercepat
regenerasi sel-sel tubuh, meningkatkan fungsi fisiologis organ tubuh,
dan meningkatkan fungsi susunan syaraf.
10. Penuh Harapan
Saat berpuasa, ada sesuatu yang diharap-harap. Harapan itu
kian besar menjelang sore. Sehari penuh menahan lapar dan minum, lalu
datang waktu buka, wah… rasanya lega sekali. Alhamdulillah. Itulah
harapan yang terkabul. Apalagi harapan bertemu Tuhan, masya’ Allah,
menjadikan hidup lebih bermakna. “Setiap orang berpuasa selalu mendapat
dua kegembiraan, yaitu tatkala berbuka puasa dan saat bertemu dengan
Tuhannya.” (HR. Bukhari).
11. Masuk Surga Melalui Pintu Khusus, Rayyaan
“Sesungguhnya di surga itu ada sebuah pintu yang disebut
Rayyan yang akan dilewati oleh orang-orang yang berpuasa pada hari
kiamat nanti, tidak diperbolehkan seseorang melewatinya selain mereka.
Ketika mereka dipanggil, mereka akan segera bangkit dan masuk semuanya
kemudian ditutup.” (HR. Bukhari).
Minum air telaganya Rasulullah SAW: “Barangsiapa pada
bulan Ramadhan memberi makan kepada orang yang berbuka puasa, maka itu
menjadi ampunan bagi dosa-dosanya, dan mendapat pahala yang sama tanpa
sedikit pun mengurangi pahala orang lain. Mereka (para sahabat)
berkata, ‘Wahai Rasulullah, tidak setiap kami mempunyai makanan untuk
diberikan kepada orang yang berbuka puasa.’ Beliau berkata, ‘Allah
memberikan pahala kepada orang yang memberi buka puasa meski dengan
sebutir kurma, seteguk air, atau sesisip susu… Barangsiapa memberi
minum orang yang berpuasa maka Allah akan memberinya minum seteguk dari
telaga dimana ia tidak akan haus hingga masuk surga.” (HR. Ibnu
Khuzaimah dan Baihaqi).
12. Berkumpul Dengan Sanak Keluarga
Pada tanggal 1 Syawal ummat Islam merayakan Hari Raya
Idhul Fitri. Inilah hari kemenangan setelah berperang melawan hawa
nafsu dan syetan selama bulan Ramadhan. Di Indonesia punya tradisi
untuk merayakan hari bahagia itu yang disebut Lebaran. Saat itu orang
ramai melakukan silahtuhrahim dan saling memaafkan satu dengan yang
lain. Termasuk kerabat-kerabat jauh datang berkumpul. Orang-orang yang
bekerja di kota-kota pulang untuk merayakan lebaran di kampung bersama
kedua orang tuanya. Maka setiap hari Raya selalu terjadi pemandangan
khas, yaitu orang berduyun-duyun dan berjubel-jubel naik kendaraan
mudik ke kampung halaman.
Silahturahim dan saling memaafkan itu menurut ajaran Islam
bisa berlangsung kapan saja. Tidak mesti pada Hari Raya. Tetapi itu
juga tidak dilarang. Justru itu momentum bagus. Mungkin, pada hari
biasa kita sibuk dengan urusan masing-masing, sehingga tidak sempat
lagi menjalin hubungan dengan tetangga dan saudara yang lain. Padahal
silahturahim itu dianjurkan Islam, sebagaimana dinyatakan hadits,
“Siapa yang ingin rezekinya dibanyakkan dan umurnya dipanjangkan,
hendaklah ia menghubungkan tali silaturahmi!” (HR. Bukhari).
13. Qaulan Tsaqiilaa
Pada malam Ramadhan ditekankan (disunnahkan) untuk
melakukan shalat malam dan tadarus al-Qur’an. Waktu paling baik
menunaikan shalat malam sesungguhnya seperdua atau sepertiga malam
terakhir (QS. Al-Muzzammil : 3). Tetapi demi kesemarakan syiar Islam
pada Ramadhan ulama membolehkan melakukan tarawih pada awal malam
setelah shalat Isya’ dengan berjamaah di masjid. Shalat ini populer
disebut shalat tarawih. Shalat malam itu merupakan peneguhan jiwa,
setelah siangnya sang jiwa dibersihkan dari nafsu-nafsu kotor lainnya.
Ditekankan pula usai shalat malam untuk membaca Kitab Suci
al-Qur’an secara tartil (memahami maknanya). Dengan membaca Kitab Suci
itu seseorang bakal mendapat wawasan-wawasan yang luas dan mendalam,
karena al-Qur’an memang sumber pengetahuan dan ilham.
Dengan keteguhan jiwa dan wawasan yang luas itulah Allah
kemudian mengaruniai Qaulan Tsaqiilaa (perkataan yang berat).
Perkataan-perkataan yang berbobot dan berwibawa. Ucapan-ucapannya
selalu berisi kebenaran. Maka orang-orang yang suka melakukan shalat
malam wajahnya bakal memancarkan kewibawaan.
14. Hartanya tersucikan
Setiap Muslim yang mampu pada setiap Ramadhan diwajibkan
mengeluarkan zakat. Ada dua zakat, yaitu fitrah dan maal. Zakat fitrah
besarnya 2,5 kilogram per orang berupa bahan-bahan makanan pokok.
Sedangkan zakat maal besarnya 2,5 persen dari seluruh kekayaannya bila
sudah mencapai batas nisab dan waktunya.
Zakat, disamping dimaksudkan untuk menolong fakir miskin,
juga guna mensucikan hartanya. Harta yang telah disucikan bakal
mendatangkan barakah dan menghindarkan pemiliknya dari siksa api
neraka. Harta yang barakah akan mendatangkan ketenangan, kedamaian dan
kesejahteraan. Sebaliknya, harta yang tidak barakah akan mengundang
kekhawatiran dan ketidaksejahteraan.
sumber : mohd_azlan_ppum





Leave a Reply